Bongkar Rahasia Banjir Sumatera Ferry Irwandi Soroti Bahaya Gelondongan Kayu

admin
23 Des 2025 18:08
2 menit membaca

Lensa Hukum, Sumut – Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah Sumatera pada akhir November 2025 kini meninggalkan persoalan material sisa banjir yang menumpuk.

Aktivis kemanusiaan sekaligus influencer Ferry Irwandi menyoroti tumpukan gelondongan kayu berukuran besar yang terbawa arus deras sungai di sepanjang wilayah Sumatera.

Menurut Ferry melalui akun media sosialnya pada Selasa 23 Desember 2025 keberadaan batang kayu besar ini justru menjadi ancaman infrastruktur yang lebih berbahaya dibanding derasnya air.

Berdasarkan analisis hidrodinamika yang dipaparkan CEO Malaka Project tersebut batang kayu yang terbawa arus meningkatkan gaya hambat dan beban benturan yang signifikan.

Hal inilah yang memicu hancurnya jembatan di Sumatera Utara Aceh dan Sumatera Barat karena kayu berfungsi layaknya palu raksasa yang menghantam pondasi bangunan.

Ferry menilai penanganan puing kayu atau driftwood seharusnya menjadi prioritas utama dalam strategi pemulihan pascabencana oleh instansi terkait.

Ia menyarankan pemerintah untuk mempelajari metode penanganan banjir bandang dari negara maju seperti Swiss dan Jepang yang menghadapi karakteristik sungai serupa.

Persoalan utama di sungai-sungai Sumatera menurut Ferry adalah adanya bottleneck atau penyempitan jalur air yang tidak ramah secara hidrolika.

Begitu aliran air tertahan oleh logjam atau tumpukan kayu di titik sempit maka dampak banjir akan langsung meluas ke pemukiman warga di sekitar daerah aliran sungai.

Salah satu solusi jangka panjang yang ditawarkan adalah pembangunan sabo dam atau bendungan penahan material sebagaimana yang telah sukses diterapkan di Jepang.

Pemasangan penahan kayu atau wood debris barrier di hulu sungai dianggap efektif untuk membiarkan air tetap lewat sementara material kayu tertahan di atas.

Selain aspek teknis Ferry juga mendorong adanya kolaborasi lintas sektor untuk mengolah material kayu sisa banjir agar memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat lokal.

Halaman:

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x